Langkah Sederhana, Jejak Besar: Perjuangan Jumaruddin Abu

Catatan Jejak Prestasi (Alm) Bapak Jumaruddin Abu.

Di sebuah desa kecil bernama Tangnga-Tangnga, Polewali Mandar, seorang lelaki sederhana bernama Jumaruddin Abu berdiri dengan mata berkaca-kaca. Tangannya yang sudah lekat dengan kerja keras itu menerima selembar sertifikat penghargaan dari Bupati Polewali Mandar, H. Samsul Mahmud. Bukan sekadar kertas, melainkan simbol pengakuan atas dedikasi panjangnya di jalan sunyi pendidikan nonformal.

Siapa sangka, dari balik dinding sederhana PKBM Putra Kembar, lahir sebuah prestasi yang mampu menggetarkan hati? Sebuah lembaga di desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, kini menjelma menjadi pionir digitalisasi pendidikan di Sulawesi Barat.

“Saya sendiri tidak menyangka… lembaga kami yang kecil ini bisa mendapatkan penghargaan. Di Polman, sejauh yang saya tahu, hanya kami yang punya alamat website aktif untuk PKBM.”

Kata-kata itu meluncur dengan getir sekaligus syukur. Baginya, inovasi bukan sekadar kebanggaan, melainkan ikhtiar menyalakan lilin kecil di tengah gelapnya keterbatasan. Dengan tekad, ia membangun website sekolah, menghadirkan penyimpanan digital raksasa 100 TB, bahkan menghadirkan internet berbasis satelit Starlink agar anak-anak desa bisa ikut merasakan UNBK tanpa hambatan.

Siapa yang mengira, sebuah PKBM dari pelosok Polewali Mandar bisa menembus 10 besar Dapodik se-Indonesia Timur tahun 2025? Sebuah capaian yang bahkan sekolah-sekolah besar pun belum tentu meraih.

Di balik prestasi ini, terselip kisah pengorbanan. Dan hari itu, saat penghargaan diserahkan, air matanya haru pecah. Bukan karena bangga semata, tetapi karena perjalanan panjang penuh kerikil itu akhirnya diakui.

“Silakan saja berbuat yang terbaik,” pesannya lirih kepada semua pendidik. “Prestasi akan datang dengan sendirinya.”

Tangnga-Tangnga mungkin hanya titik kecil di peta Indonesia. Namun dari titik kecil itu, seorang Jumaruddin telah menyalakan obor yang sinarnya menembus batas-batas desa. Obor yang mengingatkan kita bahwa kemajuan pendidikan tidak lahir dari gedung megah, melainkan dari hati yang tulus, tekad yang keras, dan doa yang tak pernah putus.

Dan malam itu, di langit Polewali Mandar, bintang seolah berkedip lebih terang. Seakan ikut bersaksi, bahwa seorang pendidik desa baru saja menuliskan sejarahnya dengan tinta air mata syukur.

Akhirnya kami ucapkan Selamat Jalan Bapak Literasi, pejuang pendidikan non formal. Segala amal dan pengabdianmu akan kami kenang selamanya.  Amin.(**)